Giant Tutup, Centro Pailit, Kapan ‘Mimpi Buruk’ ini Akan Berakhir?

Warga Kembali Serbu Giant Jelang Tutup, Diskon Tak Besar

palembangtalkGiant Tutup, Centro Pailit, Kapan ‘Mimpi Buruk’ ini Akan Berakhir? – Pada saat pandemi covid 19 ini membuat ritel di indonesia mengalami tekanan yang begitu berat. Salah satunya karena adanya pembatasan sosial berskala besar. Tetapi kebijakan tersebut membuat penghasilan perusahaan turun sampai terpaksa efisiensi dengan menutup gerai di Tanai air sehingga terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja(Pecat).

Pada bulan juli yang akan datang, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) akan mentup semua gerai giant dan mengubahnya menjadi IKEA dan Hero Supermarket. Ritel lainnya juga tertekan, seperti PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga merugi, ditambah pailitnya pengelola Centro Departement Store, PT Tozy Sentosa..

Dengan banyaknya penutupan gerai ritelm dan yang terbaru adalah Giant yang dikelola oleh HERO, ia menilai ini bahwa salah satu langkah yang tepat. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang melakukan efisiensi beban.

Pada tahun 2017 lalu, diketahui MAPI sudah melakukan restrukturisasi besar-besaran. Tetapi, setelah melakukan hal tersebut, MAPI justru mencatatkan penjualan yang  bagus. Dengan begitu, Chantika menilai langkah penutupan gerai ini pasti sudah dipikirkan matang manajemen perusahaan untuk mengurangi dampak kerugian.

“Kita tidak melihat hal negatif [menutup gerai]. Terkadang memang harus dilakukan restrukturisasi untuk selamatkan perusahaan tersebut. Jadi menurut kami ada beberapa langkah dan strategi haruskan lebih tutup dibandingkan dibuka tapi bebani perusahaan itu,” tegasnya.

Baca juga : Komisi I DPR Minta Percepat Pergantian Panglima TNI, Dukung KSAD Andika Perkasa

Berdasarkan laporan keuangan terbaru kuartal I-2021, kinerja emiten ritel belum pulih.

Contohnya, Matahari Departement Store mengalami kenaikan rugi bersih yang semula Rp 93,95 miliar pada kuartal pertama 2020, dan kini bengkak 1,49% menjadi Rp 95,35 miliar di kuartal I-2021.

Kinerja buruk juga dicatatkan oleh Ramayana yang pada kuartal pertama tahun lalu masih memperoleh laba bersih sebesar Rp 13,29 miliar. Kini pada akhir triwulan pertama 2021, perseroan malah mengalami kerugian bersih fantastis sejumlah Rp 85,66 miliar.

Adapun dengan kuartal I tahun ini, HERO kembali membukukan rugi bersih sebesar Rp 1,65 miliar secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini mengecil tinimbang rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 43,56 miliar.

Tahun lalu, kinerja keuangan HERO tergolong tertekan. Hal itu terlihat pada kerugian tahun berjalan 2020 yang lebih dalam sebesar Rp 1,21 triliun, bengkak 4.203% dibanding tahun sebelumnya rugi bersih Rp 28,21 miliar.

Di sisi lain, PT Plaza Indonesia Tbk (PLIN) tahun lalu juga membukukan kerugian Rp 575 miliar dari yang semula untung Rp 533 miliar di 2019.

Sementara itu, pengelola Centro, Tozy Sentosa, resmi telah dinyatakan pailit di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).

Kepailitan ini terjadi setelah adanya voting dari para kreditornya, di mana proposal rencana perdamaian yang diajukan oleh debitur (PT Tozy/Centro) sebagian besar di tolak para kreditornya, sehingga Centro pailit.

Baca juga : Berita Covid-19 Harian DKI Tembus 1.000 Kasus Dua Pekan Usai Lebaran

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *