Mengenal Gempa dan Longsor Bawah Laut Picu Tsunami Maluku

gempa copy
gempa copy

Palembangtalk.comMengenal Gempa dan Longsor Bawah Laut Picu Tsunami Maluku – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan akan gelombang yang terjadi setelah gempa bumi di Kecamatan Tehoru, Maluku Tengah adalah akibat dari terjadinya longsoran bawah laut.

Sebelumnya, BMKG melaporkan terjadi potensi tsunami pasca gempa dengan magnitudo 6,1 mengguncang Maluku Tengah. Pada Rabu (16/6).

Lokasi gempa berada sekitar 3.39 LS dan 129.56 atau sekitar 67 kilometer tenggara Maluku Tengah, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer di bawah permukaan laut.

BMKG lantas meralat informasi gempa bumi Maluku Tengah yang sebelumnya telah dinyatakan tidak berpotensi tsunami menjadi berpotensi tsunami.

Sehingga, masyarakat di pesisir Pantai Japutih hingga Pantai Apiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Maluku, diminta agar hati – hati dan selalu waspada.

Warga Desa Tehoru, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah berhamburan untuk mencari daerah dataran tinggi usai mereka menyaksikan gelombang pasang di Pelabuhan Tehoru setelah terjadi gempa bumi.

Melansir dari BNPB, bahwa wilayah Laut Banda dan Kepulauan Maluku memiliki potensi gempa bumi tektonik sangat besar. Dengan intensitas gempa yang menengah yang juga telah meningkat dalam satu dekade terakhir.

Apa itu gempa bumi bawah laut?

Mengenal Gempa dan Longsor Bawah Laut Picu Tsunami Maluku

Gempa bumi di bawah laut adalah penyebab dari 90 persen bencana tsunami. Gempa bumi terjadi akibat tubrukan lempeng – lempeng tektonik, tubrukan tersebut kemudian mengakibatkan pergerakan dasar laut dan mengganggu keseimbangan air yang berada di atasnya.

Selain gempa bumi bawah laut, ada terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan terjadinya stunami. Yakni letusan gunung api di bawah laut, longsor di bawah laut, dan hantaman benda – benda langit yang tengah jatuh ke bumi dan mendarat di laut contohnya seperti meteor.

Melansir Geoscience Australia, gempa bumi bawah laut itu juga berpotensi mendatangkan tanah longsor di dasar laut, seperti di darat. Daerah dasar laut yang sangat curam dan sarat dengan sedimen, seperti tepi lereng benua, lebih rentan terhadap longsor bawah laut. 

Ketika tanah longsor bawah laut itu terjadi, mungkin usai gempa bumi di dekatnya sejumlah besar pasir -pasir, lumpur, dan sejumlah kerikil dapat bergerak menuruni lereng. Gerakan itu akan menarik air ke bawah dan dapat menyebabkan tsunami yang akan melintasi lautan.

Syarat terjadi tsunami dari gempa bumi bawah laut

Namun, tidak semua gempa bumi bawah laut yang menimbulkan tsunami. Gempa bawah laut yang tidak menimbulkan tsunami jika pusat gempa lebih dari 30 kilometer di bawah permukaan air.

Sebaliknya, apabila pusat gempa berada dekat dengan permukaan air laut yang akan berada pada jarak 0 sampai 30 kilometer di bawah permukaan laut maka tsunami mungkin terjadi.

Gempa yang memicu tsunami biasanya berkekuatan di atas sekitar 6,5 skala Richter, dan mempunyai pola pergerakan (sesar) naik turun.

Terjadinya Tsunami dapat merambat dengan kecepatan hingga 950 km per jam di perairan dalam, yang setara dengan kecepatan jet penumpang.

Tsunami berbeda dengan gelombang permukaan yang ditimbulkan oleh angin di lautan. Gelombang yang dihasilkan oleh angin di perairan dalam hanya menyebabkan pergerakan air di dekat permukaan, sedangkan perjalanan tsunami melibatkan pergerakan air dari permukaan ke dasar laut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *